Sunday, December 12, 2010
Monday, November 8, 2010
Kisah Anak Laki Laki Dan Pohon Apel
Alkisah, terdapat sebuah pohon apel yg sangat besar. Seorang anak laki-laki senang sekali mengunjungi pohon tersebut dan bermain di sekelilingnya setiap hari. Iasuka memanjat pohon tersebut, hingga ke puncaknya, memakan apel-apel, tidur siang di bawah bayangan pohon apel tersebut. Ia suka pohon tersebut dan pohon apel itu pun suka bermain dengannya. Waktu terus berjalan, anak laki-laki itu pun tumbuh dewasa dan ia tidak lagi bermain disekeliling pohon itu seperti yang ia lakukan setiap harinya.
Pada suatu hari, anak laki-laki itu datang menemui pohon apel dan ia terlihat sedang bersedih.
“Aku menginginkan mainan.Dan aku butuh uang untuk membelinya.” “Maaf, tapi akutidak mempunyai uang…. Tetapi engkau dapat memetik semua apelku dan menjualnya. Maka, kamu akan mendapatkan uang untuk membeli mainan.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia pun mengambil semua apel dari sang pohon dan pergi dengan hati riang. Anak laki-laki itu tidak pernah muncul lagi setelah ia memetik semua buah apel. Sang pohon apel tersebut sangat sedih.
Pada suatu hari, anak lelaki yang telah tumbuh menjadi lelaki dewasa itu kembali dansang pohon sangat senang. “Kemari, dan bermainlah denganku.” Pinta sang pohon.
“Aku tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk menghidupi keluar- gaku. Kami membutuhkan sebuah rumah sebagai tempat berlindung. Bisakah kamumembantuku?”
“Maaf, tetapi aku tidak mempunyai sebuah rumah pun.Akan tetapi,kamu dapat memotong cabang-cabangku yang dapat kamu gunakan untuk membangunrumahmu.”
Kemudian lelaki itu pun memotong semua cabang-cabang pohon apel tersebut dan pergi dengan hati senang. Sang Pohon apel merasa senang melihat lelaki tersebut bahagia, akan tetapi lelaki itu tidak pernah kembali lagi sejak saat itu. Sang pohon kembali merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu hari di musim panas, lelaki itu kembali dan sang pohon merasa gembira.
“Kemari, dan bermainlah denganku.” Ucap sang pohon.
“Aku semakin tua. Aku ingin berlayar untuk menenangkan diriku. Dapatkan kamu memberikanku sebuah perahu?”kata lelaki itu.
“Gunakan batangku untuk membangun / membuat perahumu. Kamudapat berlayar jauh dan bahagia.”
Kemudian lelaki itu pun memotong batang pohon apel tersebut untuk dijadikan sebuah perahu. Ia pun pergi berlayar dan tidak pernahmuncul dalam waktu yang lama.
Setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya lelaki itu kembali. “Maaf anakku, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu.Tidak ada lagi apel untukmu…” tutur sang pohon.
“Tidak apa-apa, aku sudah tidak punya gigi lagi untuk menggigit.” Jawab lelaki tersebut.
“Tidak ada lagi batang untuk kamu panjat.”
“Aku sudah cukup tua untuk melakukan hal tersebut.” Ucap lelaki itu.
“Sungguh, aku tidak dapat memberikanmu apa-apa lagi… yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sekarat ini.” Sang pohon berucap dengan air mata yang mengalir.
“Aku tidak butuh apa-apa lagi sekarang, yang kubutuhkan hanyalah sebuah tempat untuk istirahat. Setelah beberapa tahun ini, aku sangat lelah.” Jawab lelaki itu.
“Baguslah…. Akar pohon yang tua ini adalah tempat yang terbaik untuk bersandar dan istirahat. Kemarilah, duduklah bersamaku dan istirahatlah.”
Lelaki itu pun duduk, sang pohon merasa bahagia dan tersenyum dengan air mata yang mengalir.
Ini adalah sebuah cerita tentang semua orang. Sang pohon seperti orangtua kita. Ketika kita kecil, kita suka dan senang bermain dengan ibu dan ayah kita. Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka…. Menemui mereka hanya ketika kita butuh sesuatu atau ketika kita dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Orangtua akan selalu ada dan memberikan semua yang mereka punya hanya untuk membuatmu bahagia.
Mungkin, kamu berpikir bahwa anak laki-laki itu telah berlaku kejam kepada sang pohon, akan tetapi…. Begitulah kita semua memperlakukan orangtua kita.Kita mengira mereka diwarisi kepada kita, kita tidak menghargai semua yang telah dilakukan oleh mereka untuk kita, sampai akhirnya….. semua itu terlambat.
Mari teman-teman kita sayangi dan hormati orang tua kita, karena ridho Alloh berada pada ridho orang tua kita. Dan jangan lupa mendoakan orang tua kita ya……
Pada suatu hari, anak laki-laki itu datang menemui pohon apel dan ia terlihat sedang bersedih.
“Aku menginginkan mainan.Dan aku butuh uang untuk membelinya.” “Maaf, tapi akutidak mempunyai uang…. Tetapi engkau dapat memetik semua apelku dan menjualnya. Maka, kamu akan mendapatkan uang untuk membeli mainan.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia pun mengambil semua apel dari sang pohon dan pergi dengan hati riang. Anak laki-laki itu tidak pernah muncul lagi setelah ia memetik semua buah apel. Sang pohon apel tersebut sangat sedih.
Pada suatu hari, anak lelaki yang telah tumbuh menjadi lelaki dewasa itu kembali dansang pohon sangat senang. “Kemari, dan bermainlah denganku.” Pinta sang pohon.
“Aku tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk menghidupi keluar- gaku. Kami membutuhkan sebuah rumah sebagai tempat berlindung. Bisakah kamumembantuku?”
“Maaf, tetapi aku tidak mempunyai sebuah rumah pun.Akan tetapi,kamu dapat memotong cabang-cabangku yang dapat kamu gunakan untuk membangunrumahmu.”
Kemudian lelaki itu pun memotong semua cabang-cabang pohon apel tersebut dan pergi dengan hati senang. Sang Pohon apel merasa senang melihat lelaki tersebut bahagia, akan tetapi lelaki itu tidak pernah kembali lagi sejak saat itu. Sang pohon kembali merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu hari di musim panas, lelaki itu kembali dan sang pohon merasa gembira.
“Kemari, dan bermainlah denganku.” Ucap sang pohon.
“Aku semakin tua. Aku ingin berlayar untuk menenangkan diriku. Dapatkan kamu memberikanku sebuah perahu?”kata lelaki itu.
“Gunakan batangku untuk membangun / membuat perahumu. Kamudapat berlayar jauh dan bahagia.”
Kemudian lelaki itu pun memotong batang pohon apel tersebut untuk dijadikan sebuah perahu. Ia pun pergi berlayar dan tidak pernahmuncul dalam waktu yang lama.
Setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya lelaki itu kembali. “Maaf anakku, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu.Tidak ada lagi apel untukmu…” tutur sang pohon.
“Tidak apa-apa, aku sudah tidak punya gigi lagi untuk menggigit.” Jawab lelaki tersebut.
“Tidak ada lagi batang untuk kamu panjat.”
“Aku sudah cukup tua untuk melakukan hal tersebut.” Ucap lelaki itu.
“Sungguh, aku tidak dapat memberikanmu apa-apa lagi… yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sekarat ini.” Sang pohon berucap dengan air mata yang mengalir.
“Aku tidak butuh apa-apa lagi sekarang, yang kubutuhkan hanyalah sebuah tempat untuk istirahat. Setelah beberapa tahun ini, aku sangat lelah.” Jawab lelaki itu.
“Baguslah…. Akar pohon yang tua ini adalah tempat yang terbaik untuk bersandar dan istirahat. Kemarilah, duduklah bersamaku dan istirahatlah.”
Lelaki itu pun duduk, sang pohon merasa bahagia dan tersenyum dengan air mata yang mengalir.
Ini adalah sebuah cerita tentang semua orang. Sang pohon seperti orangtua kita. Ketika kita kecil, kita suka dan senang bermain dengan ibu dan ayah kita. Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka…. Menemui mereka hanya ketika kita butuh sesuatu atau ketika kita dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Orangtua akan selalu ada dan memberikan semua yang mereka punya hanya untuk membuatmu bahagia.
Mungkin, kamu berpikir bahwa anak laki-laki itu telah berlaku kejam kepada sang pohon, akan tetapi…. Begitulah kita semua memperlakukan orangtua kita.Kita mengira mereka diwarisi kepada kita, kita tidak menghargai semua yang telah dilakukan oleh mereka untuk kita, sampai akhirnya….. semua itu terlambat.
Mari teman-teman kita sayangi dan hormati orang tua kita, karena ridho Alloh berada pada ridho orang tua kita. Dan jangan lupa mendoakan orang tua kita ya……
Wednesday, October 27, 2010
Nilai Sebuah Kegagalan

Bagi banyak orang kegagalan adalah sesuatu yg buruk. Apakah betul begitu? Untuk pikiran yang dangkal, hal itu memang betul. Namun apabila kita memikirkannya lebih dalam lagi, kegagalan tidak selamanya merupakan bencana. Bisa jadi, dengan kegagalan Tuhan mengingatkan kita bahwa kapasitas kita belum cukup untuk menerima kesuksesan. Barangkali Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari, yang mana kalau kita sukses padahal kemampuan kita masih dangkal, kita akan terjatuh lebih dalam lagi. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli investasi dari Amerika bahwa ‘orang bodoh dengan uang banyak adalah suatu fenomena yang sangat menarik’. Apakah yang akan terjadi bila orang bodoh tiba-tiba mendapatkan uang banyak? Jelas, dia akan menghabiskannya tanpa perhitungan hanya untuk barang-barang konsumtif dan kembali mengalami kesulitan keuangan karena kemungkinan besar barang-barang konsumtif tersebut akan dia beli dengan cara kredit. Apakah dia pantas disebut orang kaya? Jelas tidak, orang yang betul-betul kaya tahu betul apa yang akan dia perbuat dengan uangnya dan akan mengembangkannya lebih banyak lagi.
Poin utamanya adalah kesuksesan yang kita terima akan selalu sesuai dengan kapasitas diri kita. Jika kita menerima kesuksesan di luar kapasitas diri, malah kita akan jatuh lebih dalam dan gagal lebih parah. Maka dari itu, jangan terlalu mendramatisir kegagalan. Bisa jadi dengan kegagalan Tuhan menyelamatkan kita dari kegagalan yang lebih parah. Yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana caranya agar kita bisa berkembang secara pribadi untuk layak menjadi orang yang betul-betul sukses sehingga kesuksesan kita bisa bertahan lama dan semakin berkembang.
Semoga Beruntung!
Wednesday, October 20, 2010
Kisah Seekor Tikus

Seekor tikus mengintip disebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.
Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!”
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah.”
Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, “Ada perangkap tikus didalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!” “Wah, aku menyesal dengar khabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!”
Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. ” Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?” kata lembu itu sambil ketawa.
Jadi tikus itu kembalilah kerumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Didalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.
Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.
Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu.
Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat para pelayat itu.
Moral kisah ini:
—————
Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu tiada kaitan dengan anda, ingatlah bahwa apabila ada ‘perangkap tikus’ didalam rumah, seluruh ‘ladang pertanian’ ikut menanggung risikonya .
Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.
Tuesday, October 19, 2010
Perbuatan Baik Tidak Pernah Sia-sia
Al kisah ada seorang dermawan yg berkeinginan untuk berbuat kebaikan.
Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.
Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kbr ini si dermawan hanya mengatakan” Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat”
Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orng tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kpd seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor”.
Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ” Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya”.
Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang “Ceroboh” Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.
Tapi ternyata suatu niat yg baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan “kecerobohan” si dermawan.
Uang yg diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yg peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yg diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yg diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yg kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.
Sahabat, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sutau kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan.
Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.
Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kbr ini si dermawan hanya mengatakan” Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat”
Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orng tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kpd seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor”.
Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ” Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya”.
Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang “Ceroboh” Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.
Tapi ternyata suatu niat yg baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan “kecerobohan” si dermawan.
Uang yg diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yg peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yg diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yg diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yg kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.
Sahabat, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sutau kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)